Beberapa hari berlalu sejak para pemuda suku Surya menjalani tidur abadi. Matahari pagi menyinari tanah yang lembap dengan hangat yang lembut, sementara angin sepoi-sepoi menyapu dedaunan yang masih basah oleh embun. Lynx duduk bersandar di bangku kayu panjang yang terletak di bawah pohon besar di depan rumahnya. Tatapannya mengamati penduduk sekitar dengan saksama. Sekilas mereka tampak seperti biasa, sibuk dengan kegiatan harian, tetapi Lynx yang mampu melihat lebih dalam, menangkap sesuatu yang tak kasatmata. Kesedihan yang tak terucap terpancar dari sorot mata mereka, dan cara mereka bergerak seperti dikendalikan oleh beban yang tak terlihat, langkah-langkah lesu tanpa arah yang jelas.

Pikiran mereka masih terikat pada keluarga mereka yang tertidur dalam peti es keabadian, tubuh-tubuh yang belum dapat disembuhkan, jiwa-jiwa yang belum bisa dipulihkan. Lynx bisa merasakannya, kehampaan yang menggantung di udara. Bahkan ketika tawaran untuk mengunjungi kota Zhurong telah diberikan, sebuah tempat dengan peradaban yang jauh lebih maju dengan berbagai macam barang yang belum pernah mereka temui, mereka tetap enggan bergerak. Seolah-olah harapan telah dikubur bersama tubuh-tubuh yang membeku.

"Mereka tidak boleh seperti ini terus-menerus," pikir Lynx dalam diam, wajahnya mengeras oleh tekad yang perlahan tumbuh. "Jika mereka terus larut dalam kesedihan, maka seluruh desa ini akan tenggelam bersama mereka."

Langkah kaki ringan terdengar mendekat dari arah rumah. Leena muncul dengan rambut masih basah dan tubuh segar setelah mandi. Dengan hanya mengenakan gaun tipis berwarna lembut, ia mendekati Lynx dan menatap wajahnya yang serius.

"Kamu memikirkan sesuatu, ya?" tanyanya pelan, matanya menyipit sedikit sambil mencoba membaca ekspresi Lynx.

Leena lalu duduk di samping Lynx dan memeluknya pelan. Aroma sabun dan bunga melati menguar dari tubuhnya, membangunkan kesadaran Lynx dari lamunan beratnya. Lelaki itu menoleh dan tersenyum kecil, lalu membalas pelukannya dengan hangat.

"Aku sedang memikirkan keadaan mereka," ucap Lynx akhirnya, suaranya rendah namun tegas. "Aku tidak tahan melihat wajah-wajah kosong itu setiap hari. Mereka sudah terlalu lama terpenjara dalam rasa takut dan kehilangan."

Leena mengangkat wajahnya, mencoba mencari keyakinan dalam mata Lynx. "Sayang, mereka hanya butuh waktu. Rasa khawatir di hati mereka tidak mudah diabaikan. Biarkan mereka perlahan menyesuaikan diri."

Lynx menggeleng pelan. Ia kemudian berdiri dan menatap ke arah desa, tempat para penduduk terlihat seperti beraktifitas tanpa kesadaran. Mata Lynx berkilat, bukan oleh amarah, tapi oleh tekad yang menyala. Bayangan tawa mereka beberapa hari yang lalu masih teringat di benaknya. Mereka terlihat bahagia saat berkumpul dan mendengarkan cerita Lala karena beban di hati yang berkurang, namun seiring waktu, beban itu muncul lagi. Kerinduan dan kekhawatiran kembali menghiasai hari-hari mereka.

"Aku tidak bisa diam saja," ucapnya, kali ini dengan suara yang bulat. "Aku akan berbicara pada mereka. Aku harus menyalakan kembali api dalam hati mereka. Sebagai kepala suku, tugasku memastikan para penduduk merasa tentram dan bahagia."

Leena ikut berdiri dan memeluk Lynx dari belakang. Tangannya membelit pinggang Lynx dengan erat, seolah ingin memberikan semangat kepada kekasihnya.

Lynx mengelus tangan Leena yang merangkulnya,"Sayang, bantu aku. Beri tahu para Tetua untuk mengumpulkan semua penduduk di halaman utama siang ini. Aku harus menyadarkan mereka semua."

"Baik aku akan membantumu," bisik Leena lembut di dekat punggung Lynx. "Aku akan menyampaikan pesanmu pada para tetua. Kita akan mengumpulkan semua penduduk di lapangan siang nanti."

Lynx menoleh dan menatap Leena dengan lembut. "Terima kasih," ucapnya tulus.

Leena mengangguk pelan. Meskipun ia belum tahu apa yang akan disampaikan Lynx, hatinya percaya bahwa kekasihnya telah menemukan cara untuk menyalakan kembali cahaya di dalam kegelapan yang mulai menyelimuti desa Surya.

Lynx lalu membalikkan tubuhnya,"Aku akan menemui Lala. Aku ingin tahu perkembangan hasil penelitian mereka."

Lynx segera memasuki portal dunia kecil dan melihat bongkahan es besar berada di dekat laboratorium dalam bentuk setengah lingkaran sesuai dengan formasi yang di buatnya dengan ribuan pemuda suku surya di dalamnya. Untuk memastikan suhu terjaga, Lala memasang alat pengukur suhu dan selalu memeriksa alat penunjang kehidupan yang terhubung dengan mereka semua. Dengan perangkat tersebut, Lala bisa memastikan situasi dan kondisi para penduduk yang tertidur. Jika suhu mulai turun, Lynx akan memperkuat kembali kekuatan es yang menjadi kunci utama es keabadian.

Di tengah ruangan, Lala berdiri di depan sebuah perangkat teknologi canggih dengan proyeksi berbagai tulisan mengelilinginya. Lynx mencoba memperhatikan tulisn tersebut namun tidak ada yang dia pahami. Tulisan dan berbagai karakter seolah menari mengikuti ketukan jemarinya. Beberapa layar transparan turut mengambang di sekelilingnya, memunculkan berbagai grafik dan sinyal data yang berkilau seperti bintang-bintang kecil. Dengan komputer supercanggih menemaninya, sosok Lala benar-benar terlihat sangat berbeda.

Lynx berdiri diam, menyaksikan gadis itu sibuk dengan konsentrasinya yang penuh. Rambutnya tergerai berantakan, dan keringat menetes dari pelipisnya, mencerminkan betapa dalamnya ia tenggelam dalam pekerjaan.

Ketika Lala menyadari kehadiran Lynx, ia terlonjak kecil. "L-Lynx... kamu! Jangan tiba-tiba seperti hantu begitu, kamu mengagetkanku." katanya sambil memukul ringan dadanya sendiri, lalu tertawa kecil. "Tapi aku senang kamu datang."

Dia bangkit dan langsung mendekat, memeluk lengan Lynx sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan manja. "Lynx, kamu kelihatan tampan hari ini. Kamu pasti datang karena merindukanku, kan?" Suaranya lembut, tapi menggoda, seperti anak kecil yang minta dibelikan permen.

Lynx tertawa pelan, merasa geli melihat tingkah gadis eksentrik itu. Sifat manjanya selalu muncul ketika sedang bersamanya, namun saat bersama yang lain, sifat galaknya sangat dominan. Ia menggeleng pelan dan menatap matanya. "Sudah berapa hari kamu tidak tidur? Matamu terlihat bengkak. Dan kenapa kamu tiba-tiba bersikap seperti ini? Katakan saja, ada maumu, kan?"

Lala mencibir kecil namun tetap menempel di sisinya. "Yaaah… ketahuan deh. Tapi aku serius, ini penting!" Ia menarik Lynx ke kursi panjang di sisi laboratorium dan mengaktifkan proyektor holografik yang memperlihatkan peta sebuah benua. "Lihat! Ini adalah peta duniaku. Aku yakin duniamu juga memiliki hal serupa. Aku sedang memikirkan sistem pemantauan udara. Kalau aku bisa pasang satelit di orbit atas, aku bisa pantau seluruh benua kultivator ini. Kita bisa tahu banyak hal dan berbagai informasi dengan satelit ini. Selain itu, aku juga bisa buat alat komunikasi jarak jauh antarbenua Bayangkan, teknologi canggih di dunia seperti ini, bukankah terdengar sangat luar biasa."

Lynx menyipitkan mata. "Kedengarannya hebat… Diduniaku, satelit sangat berperan besar untuk banyak hal. Itu ide yang sangat luar biasa. Aku setuju," katanya sambil bersandar santai.

Namun baru saja ia selesai bicara, hatinya terasa bergetar. Sebuah firasat buruk merayap naik seperti kabut dingin dari dasar sumsum tulangnya. Lynx mengerutkan kening, teringat dengan tingkah laku Lala yang aneh. "Tunggu… kau pasti belum selesai bicara. Ada sesuatu yang kau sembunyikan."

Lala tersenyum kaku dan menggaruk pipinya. "Hehehe... sedikit saja. Seperti yang kukatakan tadi, aku ingin memasang satelit di atas sana." Lala menunjuk ke arah langit.

Dia lalu meneruskan "Masalahnya, aku butuh setidaknya satu satelit terlebih dahulu. Tapi... aku tidak bisa buat dari nol karena memakan banyak waktu dan material. Di duniaku, ada ribuan satelit. Kamu tinggal ambil satu saja... atau dua... dari sana."

Tatapan Lynx berubah tajam. "Mencuri, maksudmu? Kau ingin aku mencuri teknologi dari dunia asalmu?"

"Eh, bukan mencuri. Lebih kayak... meminjam yang tidak dipakai." Lala tersenyum canggung, berusaha terlihat polos. "Lagipula, mereka punya banyak! Kalau satu atau dua hilang, siapa yang peduli?"

Lynx berdiri dari kursinya, matanya memancarkan tekanan yang membuat udara di sekitar mereka sedikit bergetar. "Aku tidak sebodoh itu, Lala. Aku tahu apa yang kamu maksud, dan aku tidak suka merugikan pihak lain meski tidak terlihat langsung."

Lala mendengus dan melipat tangan. "Hmph! Kalau begitu, bagaimana dengan laboratorium ini? Kamu ambil dari duniaku. Bangunan ini milik Komandan Vex, milik pemerintah. Harganya mungkin sepuluh kali lipat dari satu satelit."

Lala menatap Lynx dengan wajah penuh kemenangan, senyum licik menghiasi wajahnya.

